eps 1
GERIMIS membungkus halaman sekolah. Langit mendung. Gumpalan awan hitam seakan bosan beranjak di atas sana. Satu-dua tetes air mengenai jendela kelas lalu
terbawa angin. Udara terasa lembap dan dingin. Ini sebenarnya sudah di ujung musim hujan. Tak lama lagi musim kemarau yang kering akan tiba.
�Bagus sekali, Ali! Kamu lagi-lagi memperoleh nilai terbaik.� Suara Pak Gun memecah keheningan kelas. Lelaki itu berseru dengan wajah tanpa ekspresi, menatap Ali yang baru saja menerima hasil ulangan. Kelas seketika ramai oleh tawa. Seli di sebelahku juga tertawa. Aku menyikutnya. Dengan mata melotot, kutegur dia, �Itu tidak sopan, tahu!� Seli mengangkat bahu. �Apanya yang tidak sopan?� Ini pelajaran pertama, pelajaran biologi. Pak Gun memulai pelajaran dengan membagikan satu per satu lembar jawaban ulangan anak-anak minggu lalu. Aku tahu sekali maksud kalimat �nilai terbaik� itu. Di kertas yang dipegang Ali sekarang pasti hanya ada angka 2 atau 3 dari maksimal 10. Aku menoleh ke lorong meja. Ali berjalan tidak peduli, duduk di bangkunya, memasukkan kertas ulangannya ke kolong meja. �Dua hari lagi kita ulangan.� Pak Gun sudah membagi-
kan kertas terakhir. �Yaaa...,� anak-anak berseru kecewa, serempak. Termasuk Seli. Dia menepuk dahi.
�Jangan protes.� Pak Gun menggeleng. �Kalian harus ter-
biasa belajar setiap hari, mempersiapkan diri. Tinggal satu
minggu lagi ujian akhir semester. Bapak kecewa dengan
nilai rata-rata yang hanya tujuh. Bapak percaya kalian bisa
lebih baik lagi. Dan kamu, Ali, kamu merusak nilai rata-
rata kelas. Kapan kamu akhirnya mau belajar sungguh-
sungguh?�
Semua teman di kelas sekarang menoleh ke arah Ali.
Yang ditatap hanya menggaruk-garuk kepala dengan ram-
but berantakan.
�Sekali lagi kamu memperoleh nilai dua saat ulangan,
kamu harus konsultasi ke guru BK. Semoga setelah itu
kamu bisa memahami pentingnya belajar. Kamu dengar itu,
Ali?� Pak Gun menghela napas panjang.
Seli lagi-lagi menutup mulut, menahan tawa.